Awal Juli kemarin saya pulang ke Batam lebih awal untuk menjumpai keluarga jauh yang sedang berpelesir dari Medan dan Pekanbaru. Walaupun harus meninggalkan orang terkasih di Jakarta, saya rasa persepsi orang tua dan keluarga besar juga selayaknya mendapatkan perhatian lebih. Maka di sanalah saya, di kamar sejuk itu, berkelut dengan layar handphone saya meng-utak-atik laman Traveloka. Saya sebenarnya cukup muram karena kepulangan saya yang tiba-tiba dan tidak sesuai rencana (tanggal 15). Saya harus pulang sebelum tanggal 12, dan terpaksa booking tiket tanggal 10 untuk menyisakan waktu cipika-cipiki dengan para bibi.
Pulang kali ini entah kenapa rasanya agak berbeda. Mungkin karena waktu jauh dari Depok dan orang-orang di sana bertambah berkali lipat, 2 bulan sebelum keberangkatan saya ke Inggris, dan 3 bulan di Inggris. Saya rasa beberapa hal mungkin tidak akan berubah terlalu banyak—well at least that's what I hope— namun beberapa hal sudah pasti akan terasa lebih manis atau.. justru pahit... atau asam... atau asin, well we'll see... Pagi pukul 7 saya bangun melanjutkan kegiatan packing yang belum tuntas dari 2 hari sebelumnya, bersiap-siap dan keluar untuk merangkap sarapan dan makan siang sekaligus. Perjalanan cukup cepat menggunakan ojek online menuju Soetta,—bapak sopirnya bilang 'mbak mau lewat tol yang baru gak? lewat Serpong'— yang kemudian saya sesali karena fee-nya mahal naudzubillah, bayangkan Rp81.000 untuk tol? yang bener aja. Sampai di bandara, saya langsung baggage drop terus duduk santai dulu di terminal 3.
Sebenarnya ada hal yang cukup menarik dan baru terjadi hari itu yang mau saya ceritakan sih...
Bau aneh
Ada bau aneh yang menyambut langkah kaki saya ke dalam pesawat kala ini—sialan bau tai dong? dalam hati saya—. Pertama kali gate nomor entah ke berapa itu dibuka dan saya masuk ke garbarata baunya sudah sangat semerbak—huwek— 'mungkin cuma orang keinjek tai kali ya' begitu pikir saya diikuti komentar sinis salah satu penumpang 'kaya bau tai ga sih?' ke temannya sambil mengernyitkan hidung. Semakin jauh saya masuk garbarata itu semakin dekat pula sumber aroma busuk itu, hingga akhirnya
sreeengggg.......
Bau itu menusuk hidung saya saat menyapa pramugara berambut klimis tepat di belakang kokpit pesawat. Wah ancur banget ini masa iya dari toiletnya sih?. Saya lanjut jalan ke kursi saya di barisan 20-an, baunya menipis. 10 menit duduk, baunya datang lagi dan aduhai bete deh! Selama terbang cuma bisa tutup hidung sampai akhirnya tidak tercium lagi :))
Kesal atau justru wholesome?
Kursi saya itu aisle dan malah diambil mba-mba yang dengan santainya duduk sambil scroll handphone. 'Mbak, saya disini' dia bangkit cuma buat kasih saya duduk di window seat saya bilang lagi kalau saya disitu dan dia sepertinya fokus dengan ponselnya dan cuma diam melihat saja. I swear to god I wish I was my mother at that time. Jadi saya duduk di window seat, dan kenapa beliau tidak menawarkan middle seat?....
Karena disitu ada anak laki-lakinya...
Karena disitu ada anak laki-lakinya...
Ada anak kecil berumur 4 tahun mungkin (?) duduk dengan kaos merah bertudungnya, gaya rambut poni mangkok khas bocil. Dia sedang menggambar sambil beberapa kali ngobrol dengan mamanya. Saya cuma bisa menghembuskan nafas pasrah fufu.
Duduk disitu mendengar ocehannya ditambah 'masalah teknis' yang mengharuskan pesawat terlambat 30 menit sungguh membuat badmood. Saat pesawat mulai terbang, saya lihat dia mulai mengambil perkakas seninya dan mulai membentangkan meja, saya sesekali mengintip pesawat dan dinosaurus coretannya dengan multicolor pen punya mamanya. Mamanya malah pamit tidur meninggalkan si bocil ngoceh sendirian. Saya? Saya pake earphone full volume sambil mencoba mimpi mumpung lagi di atas langit siapa tahu lebih cepat sampai. Boro-boro mimpi, si bocil malah latihan silat di kursinya, dihantamnya kursi depannya dengan tunjangan half-impactnya, terhambat sabuk pengaman yang terkulai lemas di pinggang mininya.
brak bruk dung tek!
Saya lirik mamanya yang molor sambil mangap kemudian saya lirik anaknya sambil mencari celah menendang kaki kecil sialan itu. Dia melirik saya sambil menyanyi lagu anak-anak entah apalah. Sampai akhirnya dia berhenti dan saya kembali fokus mencoba menggapai mimpi.
1 jam di atas pesawat saya cuma mendengar lagu, melirik jendela, mengganti lagu, dan melirik sinis si bocil. Saya buka koleksi game offline di handphone saya, saat itu saya bermain Badland dan memajukan posisi badan saya, saya juga masih mendengarkan lagu di kedua telinga saya. Saya begitu terfokus dengan game itu sampai tidak sadar kalau si bocil sudah melirik lirik kepo ke handphone saya dan sesekali saya lihat dia mencondongkan badannya di ekor mata saya. Saya ragu, tapi akhirnya saya menoleh dan bilang 'mau liat?' dia mengangguk semangat kemudian langsung duduk menyenderkan kepala dan melongokkan kepalanya ke game itu. Mamanya cuma terkekeh ke saya sambil melarangnya halus.
Disitulah saya, bermain sambil terkadang menyahuti ocehan penuh semangat si bocil. Ternyata dia sudah kelas 2 SD dan namanya Gabriel, dia cukup jago bahasa inggris untuk anak seumurannya. Beberapa kata seperti spike, bouncy, flappy cukup sering ia lontarkan saat menjadi komentator gameplay saya. Dia bilang dia belum pernah lihat game itu dan dia juga pamer game di ponsel lama mamanya. Dia bilang sekarang dia mau pergi ke Batam, dan saya cuma bisa ketawa geli karena omongan polos si bocil—emangnya cuma kamu yang mau ke Batam sekarang? pikir saya— mamanya geleng-geleng sambil ketawa. Kekocakan lain adalah dia heboh banget pas lihat Roblox di handphone saya, dia menunjuk-nunjuk sambil berguncang-guncang di kursinya yang berujung...
Saya dan si bocil mutualan di Roblox!!!
Sesaat setelah landing, dia langsung add friend akunnya dengan display name @bocil blabla entah apalah karena dia terus menuntut kalau saya belum add dia. Dia memamerkan game 'ternak' dinosaurusnya dan menyuruh saya download juga. Dia bilang dia mau pergi makan bersama auntienya sepulang dari bandara 'ikut aku mau gak? makan sama auntieku' Mamanya kaget setengah mati sambil menepuk lembut kepala si bocil 'eh masih kecil udah ngajak-ngajak orang yaa hahaha' Saya cuma ketawa dan ketawa dan ketawa terus karena benar-benar kehabisan reaksi :D
Sampai turun dari pesawat pun dia masih menoleh-noleh mencari saya, dia bilang saya harus ikut main game dinosaurusnya karena dia udah level tinggi yang ada unicornnya—sejak kapan ada dino unicorn?— Saya sampai harus berhenti menunggu si bocil dan mamanya jauh dulu supaya dia kembali mengoceh dengan mamanya saja.
Sampai turun dari pesawat pun dia masih menoleh-noleh mencari saya, dia bilang saya harus ikut main game dinosaurusnya karena dia udah level tinggi yang ada unicornnya—sejak kapan ada dino unicorn?— Saya sampai harus berhenti menunggu si bocil dan mamanya jauh dulu supaya dia kembali mengoceh dengan mamanya saja.
Aneh? kocak? wholesome? saya juga kurang paham, yang saya tahu ya kepada semua orang memang tidak sepatutnya menilai sesuka kita dari kesan pertama bahkan ke bocil sekalipun. Entahlah, aneh saja diputarbalikkan secepat itu. Saya ingat saya bahkan menghalang-halangi kepala kecilnya saat ia mau melihat langit dari jendela—malah saya yang kaya bocil ya— begitulah. Di akhir saya malah merasa penerbangan kali ini jadi beda, konyol, dan wholesome! Saya sempat cemas karena sejak dulu anak kecil sudah jadi musuh saya selain karena tidak suka, alasannya adalah karena saya merasa jadi salah tingkah. Sulit bagi saya mencocokkan diri terhadap anak kecil, seperti gak natural aja. Saya takut salah ngomong, atau malah tidak cukup menarik buat mereka. Kenapa peduli kalau memang tidak suka? well saya rasa ketidaksukaan itu mungkin muncul sebagai rasa bingung yang terselubung, atau cara saya untuk menjustifikasi kekurangan saya.
Kepulangan kali ini mungkin benar berbeda dari yang sebelum-sebelumnya, saya harap ending apapun itu menyisakan bekas yang sama seperti akhir penerbangan saya kemarin. Dimulai dengan keburukan, dijalani dengan gelisah dan tawa, diakhiri dengan perasaan lega yang familiar.
PS
Saya dan si bocil sempat main bareng beberapa waktu lalu di Roblox kkkk
0 comments