Joy of Yesterdays #01: Gambar dan Corat-Coret

Dulu, waktu saya masih TK, orang tua saya suka mendaftarkan saya dan kakak saya dalam lomba mewarnai di mana-mana. Saya kurang tahu persis kenapa Ayah dan Bunda begitu bersemangat memasukkan anak-anaknya ke lomba yang sama berulang kali. Mungkin karena Bunda suka menggambar? Atau karena mereka ingin kami menang sesuatu?

Yang jelas, kami mengembara Batam di atas satu motor Honda Mega Pro tangki depan itu, Ayah, Bunda, saya, dan kakak saya—berburu peruntungan di setiap kompetisi mewarnai yang ada. Saya gak tahu mereka dapat informasinya dari mana. Mungkin koran, mungkin TV, atau sekadar banner lusuh yang ditempel di depan minimarket.

Dari situ, saya mungkin pertama kali membandingkan diri.

Saya melihat anak-anak Tionghoa berambut kuncir dua dari sekolah swasta, ditemani guru-gurunya, dengan koper perlengkapan mewarnai lengkap. Sementara saya dan kakak hanya membawa totebag dengan krayon Titi 48 warna yang bajunya sudah entah ke mana. Sarung tangan hijau kecokelatan yang Ayah belikan—katanya biar tangan saya gak kotor saat mewarnai—menjadi satu-satunya "alat tempur" tambahan saya.

Tapi soal teknik, orang tua saya tidak pernah salah. Dari banyaknya lomba yang kami ikuti, mereka belajar strategi agar jadi favorit para juri. Mulai dari gradasi awan lengkung yang jadi spesialisasi saya, teknik kerik-mengerik semak-semak, sampai trik menyentil belakang kertas supaya krayon tidak menggumpal. Tak satu pun dari anak-anak kuncir dua itu tahu teknik Ayah.

Tapi tentu saja, saya masih sering kalah. Pernah satu lomba, kakak saya menang sementara saya tidak. Sekar kecil menangis sambil digandeng Bunda, sementara kakak saya memeluk piala tiga tingkat berwarna ultra blue dengan pita merah putih mengikatnya. Alhasil, rak TV di rumah kami penuh dengan piala—sumbangan dari lomba senam aerobik Ayah, dan tentu saja, kiprah mewarnai kami.

Saya akhirnya jatuh cinta pada coretan, garis, dan warna. Saya sering membandingkan bagaimana cara saya menggambar dengan cara Bunda menggambar. Bunda menggoreskan pensilnya dengan lembut, begitu rapi dan halus, sementara saya masih takut-takut. Saya ingat suatu hari saat ikut Bunda ke arisan, saya telentang di lantai ruang tamu rumah temannya, menggambar peri di kertas HVS. Saya menggambar dengan tegang—takut kalau hasilnya mengecewakan mereka.

Dan mungkin, saya memang selalu punya hubungan seperti itu dengan menggambar. Bukan hanya soal berkarya, tapi juga soal rasa dilihat dan dihargai.

Saya masih ingat, dulu saya dilarang ikut lomba mewarnai 17-an di kompleks. Katanya, kalau saya ikut, anak-anak tetangga gak akan menang. Saya juga ingat dipaksa ikut lomba mural di pos satpam komplek, yang akhirnya sepi peminat, dan ujung-ujungnya saya malah bersaing dengan bapak-bapak gabut yang ikut ngeramein aja.

Tapi sekarang?

Sekarang saya jarang menggambar. Padahal dulu sempat jadi primadona komplek. Kakak saya mungkin gak terlalu terikat dengan pengalaman ini, tapi di saya, menggambar selalu melekat. Sekarang saya lebih suka main cat air, sketsa tipis-tipis. Saya sering ngasih hasil gambar sebagai hadiah untuk orang-orang tersayang. Saya gak tahu mereka benar-benar menghargainya atau tidak, tapi buat saya, itu cara saya menunjukkan perasaan.

Dan ya, saya kangen menggambar.

Banyak yang ingin saya wujudkan lewat tangan ini. Tapi Creations—folder karya saya—masih kosong. Saya berharap, tahun ini saya bisa lebih produktif.

Saya suka kepikiran, kalau tangan saya kenapa-kenapa, saya pasti akan galau sepanjang sisa umur saya karena gak bisa corat-coret lagi.

Dan mungkin, itu artinya saya harus mulai lagi.

0 comments

prev
next